Sabtu, Oktober 14, 2017

TEMA RISALAH POKOK NABI MUHAMMAD SAW




, S.PdI
                       
 TEMA POKOK RISALAH NABI MUHAMMAD SAW                                        
Tentang keagungan akhlak serta sifat dan kepribadian Nabi  Muhammad SAW, Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab, ayat 21, yang berbunyi:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.(Q.S. Al-Ahzab:21).[1]

Di dalam Tafsir AL-Jalalain dijelaskan tentang ayat diatas:
(Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan bagi kalian) dapat dibaca iswatun dan uswatun (yang baik) untuk diikuti dalam hal berperang dan keteguhan serta kesabarannya, yang masing-masing diterapkan pada tempat-tempatnya (bagi orang) lafal ayat ini berkedudukan menjadi badal dari lafal lakum (yang mengharap rahmat Allah) yakni takut kepada-Nya (dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah) berbeda halnya dengan orang-orang yang selain mereka.[2]


1
Penulis berpendapat tentang ayat diatas, yakni ayat ini menjelaskan dengan terangnya tentang akhlak nabi Muhammad SAW, tiada keraguan lagi bagi kita untuk meyakini tentang hal itu. nabi Muhammad SAW merupakan contoh yang paling teladan yang harus kita contohi, apalagi dalam ilmu akhlak serta karakter yang sedang kita pelajari akhir-akhir ini. Dan akhlak yang kita contohi tersebut karena mengharapkan rahmat Allah SWT, artinya akhlak


harus bertujuan rahmat dan ridho Allah swt, serta menyadari serta meyakini bahwa hari kiamat akan datang, serta yang sangat pentingnya ialah, bahwa orang yang ber-akhlakulkarimah itu ialah orang yang selalu mengingat Allah swt disetiap niat dan perbuatan kita sehari-hari.
Nabi Muhammad adalah Nabi sekaligus Rasul paling akhir dari sekian banyak nabi yang diturunkan oleh Allah SWT ke dunia ini. Tugas utama nabi Muhammad diutus adalah menyampaikan risalah kenabian yang Allah turunkan melalui wahyu yang disampaikan oleh malaikat jibril.
Namun sesungguhnya Ada misi lain yang lebih penting kenapa nabi muhammad diutus yaitu untuk menyempurnakan akhlak seluruh umat manusia di dunia ini. Sebagaimana sabda beliau yang berbunyi
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ.
Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Keshalehan akhlak”. (HR: Bukhari).[3]

Akhlak mulia ialah tingkah laku yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus. Jika hanya sekali melakukannya, maka tidak dapat disebut dengan perbuatan terpuji. Manusia bisa berakhlak baik jika timbul dengan sendirinya didorong oleh tuntunan sesuai ayat-ayat suci Al Quran dan Islam. Merupakan tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Tapi sebaliknya tegaknya aktifitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang bisa membuat manusia memiliki kelakuan yang baik (akhlaqul kariimah).
Dalam arti kata pada pengertian yang hakiki, bahwa akhlak yang baik timbul dari aqidah yang baik, amalan yang taat kepada Allah SWT, serta memahami serta setidaknya dapat mengaplikasikan Konsep Ihsan alam semua perbuatan dan tindakan dalm hubungan manusia dengan sang Khaliq serta hubungan manusia dengan Makhluq ciptaanNya.


Nabi Muhammad SAW dilahirkan ditengah-tengah zaman jahliyah bangsa arab masa itu, “peradaban jahiliyah yang keprcayaan mayoritas mereka ialah menganut agama asli mereka yaitu percaya pada banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung-patung. setiap kabilah mereka mempunyai berhala-berhala sendiri, yang berpusat di ka’bah”[4]
Jahiliyah berasal dari kata Jahlan, yajhalun, yang berarti “ketidak tahuan atau kebodohan, atau tidak mau tahu dengan, tidak mengetahui, tidak terbiasa dengan, tidak acuh tentang.” [5] mereka menetapkan hukum sesuai dengan keputusan suku masing-masing, dan aqidahnya pun menyesuiakan suku masing-masing pula, kondisi sosial arab meskipun primitif, namun mempunyai peradaban yang tinggi, dalam artian mereka bukan jahil dalam masalah pemikirian peradaban, mereka jahil dalam masalah akidah. Sebagai salah satu contoh peradaban mereka yang diakui dunia ialah bahasa arab, yang mana banyak para  pakar sepakat bahwa bahasa arab adalah bahasa yang terbaik di dunia. Bahakan Allah memilih Bahasa Alquran menggunakan bahasa arab.
Mereka cenderung hidup berpoya-poya, bersenang-senang, mereka boleh mengawini banyak wanita dengan menetapkan waktu tertentu yang biasa di sebut nikah mut’ah, dan para suami boleh meminta kepada orang yang dianggap mulia untuk menjimak istrinya untuk mendapatkan kturunan yang menurut mereka akan maulia pula. Dan banyak lagi aturan lain yang mereka tentukan sesuai dengan kesepakatan setiap suku masing-masing. Ditengah peradaban yang begitulah Nabi muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak serta akidah yang sempurna. Sebagaimana firman Allah:
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# šúï̍Ïe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuŠÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# $yJŠÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù 4 $tBur y#n=tG÷z$# ÏmŠÏù žwÎ) tûïÏ%©!$# çnqè?ré& .`ÏB Ï÷èt/ $tB ÞOßgø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# $JŠøót/ óOßgoY÷t/ ( yygsù ª!$# šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä $yJÏ9 (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù z`ÏB Èd,ysø9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 3 ª!$#ur Ïôgtƒ `tB âä!$t±o 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ ?LìÉ)tGó¡B ÇËÊÌÈ  
Artinya:
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.(Q.S Al-Baqarah: 213).[6]

Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi sekaigus rasul terakhir yang diutus ke muka bumi untuk membawa umatnya ke jalan yang benar. Beliau terlahir dari seorang ibu yang bernama Siti Aminah dan Ayah yang bernama Abdullah, yang dilahirkan pada hari Senin, “12 Rabiul Awal atau 22 April 571 M di kota Mekkah pada tahun Al-Fiil (gajah) dan wafat pada tanggal 8 Juni 632 M di Madinah dalam usia 63 tahun”.[7]
Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, karena ketika nabi Muhammad masih dalam kandungan, Abdullah telah meninggal dunia. Nama lengkap Muhammad bin Abdullāh ini merupakan seorang yang terlahir dari keluarga Bani Quraisy yang membawa ajaran agama Islam. Nama Muhammad artinya orang yang terpuji. Nama ini diberikan oleh kakek tercintanya yaitu Abdul Muthalib[8].
Nabi Muhammad sejak kecilnya telah diberikan kehidupan layaknya manusia biasa, padahal beliau sangat dimuliakan oleh Allah SWT, dan pada usia 6 tahun beliau ditinggal oleh ibunya. Sehingga beliau menjadi seorang yatim piatu, beliau merasakan apa yang dialami oleh manusia pada umumnya. Dan diusianya yang ke 8 tahun, beliau ditinggal oleh kakeknya Abdul Muthalib. Kehidupan yang beliau jalani dapat menjadi panutan seluruh umat manusia.
Nabi Muhammad disusui oleh Tsuaibah selama 3 hari dan oleh kakeknya beliau disusukan juga kepada Halimah As-Sa’diyah dan berada dalam asuhannya kurang lebih 6 tahun. Dalam usia 5 bulan beliau sudah bisa berjalan dan pada usia 9 bulan sudah lancar berbicara. Semasa kecilnya beliau juga telah menggembalakan kambing. Abu Thalib (paman nabi) mengajak berdagang ketika usianya 12 tahun ke negri Syam. Beliau diasuh pamannya setelah ditinggal wafat kakeknya, dan mengasuh  serta menjaga nabi sampai pada usia lebih dari 40 tahun[9].

Rasulullah SAW menerima wahyu untuk menyampaikan dan menyiarkan ajaran agama Islam dan mengajak umat manusia  untuk menyembah Allah SWT. Beliau menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Adapun orang-orang yang pertama masuk Agama Islam atau disebut dengan Assabiqunal Awwwalun yaitu keluarga dan para sahabatnya, yaitu: istrinya Siti Khadijah, sahabatnya Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As-Shiddiq, anak angkatnya Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair dan masih banyak lagi keluarga dan para sahabat Rasul yang lainnya.
Selama 3 tahun lamanya Rasulullah SAW berdakwah secara sembunyi sembunyi dari satu rumah ke rumah lainnya. Kemudian ini lah yang menjadi Asbabunnuzul turunnya surat Al Hijr ayat 94[10], yang Berbunyi:

÷íyô¹$$sù $yJÎ/ ãtB÷sè? óÚ̍ôãr&ur Ç`tã tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÒÍÈ  
Artinya:
Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik (QS Al Hijr: 94)”.[11]

Dengan turunnya ayat ini maka Rasulullah SAW menyiarkan dakwahnya secara terang-terangan. Tanggapan orang-orang Quraisy pada saat itu sangat marah dan melarang penyiaran islam yang dibawa oleh nabi bahkan nyawa nabi Muhammad sangat terancam. Namun Nabi dan para sahabatnya semakin kuat dan tangguh menghadapi tantangan dan hambatan yang dihadapi dengan ketabahan serta sabar walau ejekan, caci maki, olok-olokan dan menentang seluruh ajaran Nabi.
Sudah sama-sama kita ketahui juga bahwa Pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW tahun ke 10 pada saat “Amul Huzni” yaitu tahun duka cita dimana pamannya Abu Thalib dan istrinya Siti Khadijah wafat serta umat Islam dalam keadaan sengsara. Ditengah-tengah kesedihannya, beliau dijemput Malaikat Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu melakukan perjalanan dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram sampai ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT  dan untuk menerima perintah shalat lima waktu. Pada tahun 10 H nabi melakukan haji wada’ atau haji terakhir. Dalam wukufnya di Arafah, beliau menyampaikan khutbahnya yang berisikan tentang larangan melakukan penumpahan darah kecuali dengan cara yang benar, larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, larangan memakan harta riba, hamba sahaya harus diperlakukan dengan cara yang baik, dan agar umatnya selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunah Nabi SAW. Setelah berdakwah selama 23 tahun, beliau wafat pada usia 63 tahun.
Sebagaimana sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ.
Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Keshalehan akhlak”. (HR: Bukhari).[12]

Misi utama dan pertama kali Rasulullah ialah menyempurnakan akhlak umat manusia, karena pada masa sebelum kelahiran nabi muhammad SAW, peradaban manusia sangat tidak baik, zaman jahiliyah itu harkat dan martabat manusia tidak berharga kecualai orang yang kuat dan yang kaya. Mereka menyembah berhala-berhala, lebih kurang 300 berhala yang mereka sembah, maka ditengah-tengah masyarakat itu Rasulullah dilahirkan, dengan memperbaiki akidah hingga ibadah, muamalah, ekonomi, politik dan peradaban baru hingga membentuk serta mencontohi akhlakulkarimah bagi umatnya, hingga zaman sekarang sampai hari kiamat kelak.
   Sifat dalam kamus bahasa indonesia yakni; “1 rupa dan keadaan yang tampak pada suatu benda; tanda lahiriah, 2. peri keadaan yang menurut kodratnya ada pada sesuatu (benda, orang, dsb):  3. ciri khas yang ada pada sesuatu (membedakan dari yang lain): 4. dasar watak (dibawa sejak lahir)”[13]
Namun secara sederhana, sifat merupakan ciri-ciri tingkah laku atau perbuatan yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam diri seperti pembawaan, minat, konstitusi tubuh, dan cenderung bersifat tetap/stabil.
Sedangkan Kepribadian adalah “keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang”.[14]
Petunjuk hidup Umat Islam adalah Al Qur’an (firman Allah), namun contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari adalah kepribadian Rasulullah SAW. Dalam diri dan pribadi Rasulullahlah penjabaran Al-Qur`an di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad memiliki akhlaq dan sifat-sifat yang sangat mulia. Oleh karena itu hendaklah kita mempelajari sifat-sifat Nabi seperti Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh. Mudah-mudahan dengan memahami sifat-sifat itu, selain kita bisa terhindar dari mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, kita juga bisa meniru sifat-sifat Nabi sehingga kita juga jadi orang yang mulia.
Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya. Beda sekali dengan pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya berbeda dengan ucapannya. Sifat nabi ini dijelaskan dengan terang dalam Al-quran, yang berbunyi:
$oYö7ydurur Mçlm; `ÏiB $uZÏFuH÷q§ $uZù=yèy_ur öNçlm; tb$|¡Ï9 A-ôϹ $wŠÎ=tã ÇÎÉÈ  
Artinya:
dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi. (QS. Maryam:50).[15]

Sifat Rasulullah diterangkan diatas dianugrahkan Allah kepada utusannya, apa yang diucapkan Nabi Muhammad saw. merupakan ucapan yang datangnya dari Allah SWT. yang sudah pasti kebenarannya dan merupakan contoh ummat Nabi muhammad SAW, setiap tingkah laku, perkataan,perbuatan nabi merupakan akhlak yang paling baik dan tinggi. Maka Mustahil Nabi itu bersifat pembohong/kizzib, dusta, dan sebagainya. Sebagaimana Firman Allah SWT:
Artinya:
$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #uqolù;$# ÇÌÈ   ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ  
Artinya:
Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”.(Q.S An-Najm: 3-4).[16]

Ali mengatakan: “Sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling benar ucapannya”.[17] Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi Muhammad saw. dapat diketahui apakah beliau marah atau senang. Beliau tidak pernah mengatakan kata-kata yang munkar dan tidak mengatakan baik dalam keadaan senang atau dalam keadaan marah kecuali yang benar, dan beliau berpaling dari orang yang mengucapkan kata-kata yang tidak baik. Beliau adalah orang yang paling disenangi, bila gembira dia senang dan bila memberi nasihat beliau memberikannya dengan sungguh-sungguh. Apabila beliau marah karena Allah taala bukan karena kepentingan pribadinya.
Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah orang yang pembohong.
öNà6äóÏk=t/é& ÏM»n=»yÍ În1u O$tRr&ur ö/ä3s9 îûüÏBr& îw¾¾$tR ÇÏÑÈ  
“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.”(Q.S, Al A'raaf: 68)[18]

Sifat amanah Rasulullah Memberi bukti bahwa beliau adalah orang yang dapat dipercaya, beliau mampu memelihara kepercayaan dengan merahasiakan sesuatu yang harus dirahasiakan dan sebaliknya selalu mampu menyampaikan sesuatu yang seharusnya disampaikan.
Sesuatu yang harus disampaikan bukan saja tidak ditahan-tahan, tetapi juga tidak akan diubah, ditambah atau dikurangi. Demikianlah kenyataannya bahwa setiap firman selalu disampaikan Nabi sebagaimana difirmankan kepada beliau. Dalam peperangan beliau tidak pernah mangurangi harta rampasan untuk kepentingan sendiri, tidak pernah menyebarkan aib seseorang yang datang meminta nasihat dan petunjuknya dalam menyelesaikannya dan lain-lain. Sifat amanah ini berarti juga jujur dalam menunaikan tugas-tugas kerasulan, dengan tidak menutup-nutupi wahyu yang diturunkan, Artinya Nabi tidak sekedar menyampaikan yang menguntungkan dan tidak menyampaikan yang merugikan diri beliau sendiri.[19]
Contoh yang kongkrit dari riwayat kehidupan nabi Muhammad SAW, yakni Kemiskinan yang beliau alami adalah sebagai bukti bahwa beliau benar-benar hanya memikirkan tugasnya untuk berdakwah (mendidik) umatnya. Beliau tidak pernah takut kemiskinan, karena semenjak menjadi Rasul keseluruhan hidupnya hanya untuk menyebarkan syiar Islam yang telah menjadi amanahnya. Maka mustahil Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah. Ketika Nabi Muhammad SAW ditawari kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar beliau meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam, beliau menjawab:
”Demi Allah…wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suciku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-Nya”……
Meski kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Nabi, namun Nabi tidak gentar dan tetap menjalankan amanah yang dia terima.
Seorang Muslim harusnya bersikap amanah seperti Nabi. 
Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.
Sebagaimana firman Allah SWT:
 zOn=÷èuÏj9 br& ôs% (#qäón=ö/r& ÏM»n=»yÍ öNÍkÍh5u xÞ%tnr&ur $yJÎ/ öNÍköys9 4Ó|Âômr&ur ¨@ä. >äóÓx« #OŠytã ÇËÑÈ  
 Artinya:
“Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (Q.S: Al Jin: 28)[20]

Dan juga tentang ayat yang menyindir nabi Muhammad, bahwa Nabi tetap menyampaikan kepada umat, itu menandakan bahwa Nabi itu tablig.
}§t6tã #¯<uqs?ur ÇÊÈ   br& çnuä!%y` 4yJôãF{$# ÇËÈ  

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,karena telah datang seorang buta kepadanya” (Q.S: 'Abasa 1-2)[21]

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah Dalam Surat ‘abasa diatas, turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Ayat turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah SAW.(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)
Sebetulnya apa yang dilakukan Nabi itu menurut standar umum adalah hal yang wajar. Saat sedang berbicara di depan umum atau dengan seseorang, tentu kita tidak suka diinterupsi oleh orang lain. Namun untuk standar Nabi, itu tidak cukup. Oleh karena itulah Allah menegurnya.
Sebagai seorang  yang tabligh, meski ayat itu menyindirnya, Nabi Muhammad tetap menyampaikannya kepada kita. Itulah sifat seorang Nabi. Tidak mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu.
Berikut ini beberapa kisah yang menguatkan bahwa Nabi bersifat  tabligh, yakni :
1. Adanya al-Quran sebagai mukjizat.
Bukti bahwa Nabi Muhammad saw. memiliki sifat tabligh sebagai sifat rasul yakni diturunkannya al-Quran sebagai mukjizat terbesarnya untuk disampaikan kepada ummat. Pada permulaann kerasulannya Rasulullah menyebarkan agama Islam secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah cukup memperoleh pengikut Nabi diperintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Sehingga pada suatu ketika Rasulullah saw. naik ke bukit Safa di Makkah berteriak dengan lantang memanggil bangsa Quraisy untuk menyatakan diri menyembah kepada Allah dan meninggalkan berhala serta bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Setelah berpidato mereka orang-orang Quraisy menghina dan mengatakan bahwa Muhammad orang gila.
Kisah ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad saw. Telah memulai misinya sebagai rasul untuk bertabligh kepada umatnya meskipun mendapat cercaan, hinaan namun beliau tetap menghadapinya dengan penuh kesabaran.
2. Peristiwa Israk Mikraj
Melalui perjalanan inilah Rasulullah saw. diperkuat oleh Allah misi kerasulannnya dengan di-israk mikraj-kannya Nabi Muhammad saw. ke langit diperlihatkannya tanda-tanda kebesaran Allah kepada Nabi Muhammad saw. Satu hikmah terbesar dari peristiwa itu yakni diperintahkan dan diwajibkannya sholat lima waktu kepada semua orang Islam yang menjadi tiang dasar dan tegaknya Islam selanjutnya.
Peristiwa ini kemudian ditablighkan nabi kepada ummatnya yang akhirnya mendapat sambutan dari orang Quraisy dengan sambutan yang baik dan dapat menerimanya seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, tetapi juga mendapat penolakan dan cemoohan dari mereka yang baru masuk Islam. [22]
Hal tersebut kiranya telah kita ketahui bahwa tugas pokok yang ditanggung Nabi Muhammad saw di tengah-tengah masyarakat jahiliah yang menyembah banyak Tuhan, untuk mengajak manusia mengimani ke-Esaan-Nya dan hanya menyembah kepada Allah melalui peringatan-peringatan yang disampaikannya kepada umat. Hal ini senada dengan al-Quran surat Al-Anbiyaa’ ayat 108:
قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ  
Artinya:
“Katakanlah: sesungguhnnya yang diwahyukan kepadaku adalah bahwa saya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada) Nya. (QS. Al-Anbiya: 108).[23]

Artinya Cerdas. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan 6.236 (sebagian pendapat) 6666 ayat Al Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.
Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka mau masuk ke dalam Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.
Apalagi Nabi mampu mengatur ummatnya sehingga dari bangsa Arab yang bodoh dan terpecah-belah serta saling perang antar suku, menjadi satu bangsa yang berbudaya dan berpengetahuan dalam 1 negara yang besar yang dalam 100 tahun melebihi luas Eropa. Itu semua membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.
Namun dalam risalah beliau sebagai seorang nabi sekaligus rasul, Setidaknya ada 3 hal kepribadian Nabi Muhammad SAW, yang sudah semestinya kita teladani, yaitu : Keteladanan Nabi sebagai Pribadi Muslim , keteladanan Nabi sebagai Pemimpin, dan keteladanan Nabi sebagai Panutan dalam Rumah Tangga dan lingkungan Masyarakat.
Andaikan para Nabi dan Rasul tidak bersifat Fathonah,maka tentunya mereka bersifat Baladah.Jika Nabi dan Rasul bersifat Baladah maka mereka pasti tidak akan mampu menjawab dan menundukkan argumentasi musuh-musuhnya dalam perdebatan.Padahal yang demikian ini mustahil sebab kenyataan telah terbukti dalam perdebatan mereka mampu mengalahkan musuhnya .Banyak saksi-saksi yang melihat kemampuan mereka, diantaranya Al Qur an sendiri banyak menceritakan kisahnya.[24]

Secara rinci sebagaimana yang kami kutip pendapat Muhammad Sa’id Ramadhan Al- Buthy dalam bukunya Sirah Nabawiyah, terbitan Rabbani Press[25], yang dapat diuraikan secara rinci sebagai berikut:
1.      Sebagai Pribadi Muslim, Nabi Muhammad SAW memiliki :
a)    Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
b)   Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
c)    Akhlaqul Karimah (budi pekerti yang mulia)
2.      Dalam bidang Muamalah memiliki:
a.    Qowiyyul Jismi (jasmani yang kuat)
b.    Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
c.    Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
d.   Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
e.    Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
f.     Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri / mandiri)
g.    Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
3.      Sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW memiliki :
a)    Keteladanan dalam iman.
Seorang Pemimpin Umat yang beriman dan taat (taqwa) kepada Allah, dalam pengambilan keputusan dan kebijakannya selalu mengacu kepada kebenaran. Kesatuan antara perkataan, hati dan perbuatan tercermin dalam sikapnya yang ikhlas dalam mencari ridho-Nya.
b)   Keteladanan dalam akhlak.
Akhlak yang mulia, dapat menyentuh hati. Sebagaimana riwayat adanya seorang yahudi buta yang sangat membenci Rasulullah dapat masuk Islam , karena akhlak mulia Beliau. Tak pernah lupa, Beliau selalu menyuapi orang buta itu setiap hari, walaupun dicaci maki dan dihina setiap hari. Tapi Beliau terus sabar dan ikhlas, bahkan Nabi pun selalu mengelus punggung orang buta tadi, layaknya kepada seorang anak kecil. Keteladanan dalam pengorbanan Seorang pemimpin adalah orang yang harus lebih banyak berkorban dari pada orang yang dipimpinnya. Dia mengorbankan waktunya, pikiranya, dan hartanya untuk kepentingan bersama. Dia bersedia untuk turun langsung membantu orang-orang yang dipimpinnya. Tidak hanya sekedar mengarahkan dan menyuruh, tapi dia bersama-sama pengikutnya melakukannya.
c)    Keteladanan dalam menghadapi masalah.
Rasulullah pun selalu dapat memberikan solusi jika terdapat konflik atau masalah. Solusinya pun tepat sasaran. Bahkan Beliau dapat menyikapi perbedaan pendapat yang ada dalam pengikutnya. Jika pemimpin dapat memberikan keteladan, insya Allah maka perubahan ke arah yang lebih baik dapat terjadi. Pemimpin itu ibarat sumber mata air di hulu. Bila di hulu airnya telah keruh, maka kebawahnya akan keruh juga. Jika dari sumbernya telah bersih dan jernih, makan kebawahnya pun Insya Allah akan bersih juga.
4.      Sebagai Panutan dalam Hidup Berumah tangga.
 Bagi orang-orang yang telah berkeluarga, maka Rasulullah teladan yang terbaik. Beliau tidak pernah berkata kasar kepada isteri dan anaknya. Adapun sikap Nabi dengan keluarganya sebagai berikut[26]:
a)      Bersikap Adil Nabi Muhammad saw. sangat memperhatikan perilaku adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk sesuatu yang remeh dan sepele. Beliau adil terhadap istri-istrinya dalam pemberian tempat tinggal, nafkah, pembagian bermalam, dan jadwal berkunjung. Beliau ketika bertandang ke salah satu rumah istrinya, setelah itu beliau berkunjung ke rumah istri-istri beliau yang lain.
b)      Bermusyawarah Dengan Istrinya, Rasulullah saw mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya. Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak qawamah atau kepemimpinan keluarga, berada ditangan laki-laki. Allah swt berfirman:
£`çlm;ur ã@÷WÏB Ï%©!$# £`ÍköŽn=tã Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 4 ÉA$y_Ìh=Ï9ur £`ÍköŽn=tã ×py_uyŠ 3 ª!$#ur îƒÍtã îLìÅ3ym ÇËËÑÈ  
Artinya:
“Dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Q.S, Al-Baqarah: 228).[27]

c)      Lapang Dada dan Penyayang Istri-istri Rasulullah saw memberi masukan tentang suatu hal kepada Nabi, beliau menerima dan memberlakukan mereka dengan lembut. Beliau tidak pernah memukul salah seorang dari mereka sekali pun. Belum pernah terjadi demikian sebelum datangnya Islam.
d)     Pelayan Bagi Keluarganya Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan khidmah atau pelayanan ketika di dalam rumah. Beliau selalu bermurah hati menolong istri-istrinya jika kondisi menuntut itu. Rasulullah saw bersabda: “Pelayanan Anda untuk istri Anda adalah sedekah.” Adalah Rasulullah saw mencuci pakaian, membersihkan sendal dan pekerjaan lainnya yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya”.
e)      Berhias Untuk Istrinya, Rasulullah saw mengetahu betul kebutuhan sorang wanita untuk berdandan di depan laki-lakinya, begitu juga laki-laki berdandan untuk istrinya. Adalah Rasulullah saw paling tampan, paling rapi di antara manusia lainnya. Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya agar berhias untuk istri-istri mereka dan menjaga kebersihan dan kerapihan. Rasulullah saw bersabda: “Cucilah baju kalian. Sisirlah rambut kalian. Rapilah, berhiaslah, bersihkanlah diri kalian. Karena Bani Isra’il tidak melaksanakan hal demikian, sehingga wanita-wanita mereka berzina.”
f)       Bercanda dengan keluarganya, Rasulullah saw tidak tidak lupa bermain, bercanda-ria dengan istri-istri beliau, meskipun tanggung jawab dan beban berat di pundaknya. Karena rehat, canda akan menyegarkan suasan hati, menggembirakan jiwa, memperbaharui semangat dan mengembalikan fitalitas fisik. Dari Aisyah ra berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah saw dalam suatu safar. Kami turun di suatu tempat. Beliau memanggil saya dan berkata: “Ayo adu lari” Aisyah berkata: Kami berdua adu lari dan saya pemenangnya. Pada kesempatan safar yang lain, Rasulullah saw mengajak lomba lari. Aisyah berkata: “Pada kali ini beliau mengalahkanku. Maka Rasulullah saw bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.”
Dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallohu'anhu Rosulullah Sholallohu 'alaihi  wasallam dalam salah satu do'anya beliau mengucapkan :

اَلَّهُمَّ ا هْدِ نِيْ لِأَ حْسَنِ الأَ خْلاَ قِ، فَاِ نّهُ لاَ يَهْدِ يْ لِأَ حْسَنِهَا اِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَسْرِفُ عَنِّىْ سَيِّئَهَا اِلَّا  اَنْتَ
"Ya Allah... tunjukanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukannya selain engkau. Ya Allah... Jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain engkau".(HR. Muslim 771)[28]

Akhlak menurut bahasa artinya karakter, perilaku dan budi pekerti. Sedangkan menurut istilah, akhlak mulia adalah menghiasi diri dengan kebaikan dan menahan diri dari kejelekan. Dan kebaikan sendiri harus sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Akhlak secara terminologi berarti “tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik, Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluqun, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat”[29]. 
Cara membedakan akhlak, moral dan etika yaitu dalam etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolok ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan dalam moral dan susila menggunakan tolok ukur norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat), dan dalam akhlaq menggunakan ukuran Al Qur’an dan Al Hadis untuk menentukan baik-buruknya.
Sebagaimana yang disampaikan Aisyah Istri Nabi, bahwa akhlak nabi ialah Al-qur’an.(H.R, Muslim)[30]
Artinya segala apapun yang berhubungan dengan perkataan, perbuatan dan kehidupan beliau sesuai Al Quran. Merupakan hal penting untuk memberikan makna kepada kehidupan di dunia dan akhirat. Karena akan berdampak positif kepada kehidupan diri sendiri dan orang lain. Ketika berhadapan dengan orang-orang kejam, jahat, penguasa zalim yang melancarkan berbagai aksi cacian, penghinaan, fitnah dan ejekan pun harus diterimanya. Luar biasanya, semua hal tersebut beliau lalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Dalam sebuah hadist Rasulullah Bersabda:
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (HR. Muslim)[31]
Kutipan pengertian Ihsan yang dikemukakan Rasulullah dalam hadis diatas yakni :أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ artinya, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”.
Hemat penulis, ibadah diatas dalam pengertian yang luas, yakni semua perbuatan, perkataan, maupun ‘itikad yang bernilai ibadah maka perbuatan itu haruslah bertujuan serta mengharapkan rahmat Allah, swt. Dan kemudian akhlak yang baik tadi kita pelajari dan kita biasakan sehingga mendarah daging. Dengan Ihsan pula kita menjauhi segala yang dilarag-Nya dengan tujuan ridho dan rahmat Allah swt.
Ada banyak akhlak Nabi Muhammad Saw yang harus kita teladani. Bahkan semua perbuatan, perkataan, dan tingkah laku beliau haris kita contohi. Beliau hadir ditengah masyarakat jahiliyyah dengan akhlak beliau yang lembut dapat merubah peradaban umat manusia keperadaban yang tinggi.
Diantara akhlak Nabi SAW sesuai Al Quran yaitu dermawan, ramah, sabar, tidak sombong, tidak munafik, memuliakan anak yatim, menyayangi binatang, jujur, menghormati non muslim, menjauhi larangan dan menjalankan perintah Allah SWT. Selain itu beliau memadukan takwa kepada Allah dan sifat-sifat mulia. Sehingga akan melahirkan cinta seseorang kepada-Nya. Takwa kepada Allah SWT dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan sesamanya.
Apalagi Untuk zaman sekarang ini, yang terbaik adalah yaitu mengimbangi kemajuan di bidang teknologi informasi dengan keimanan yang sesuai tuntunan Al Quran dan Hadits. Manusia yang hanya mengikuti dorongan nafsu liar dan amarah saja untuk mengejar kedudukan dan harta benda dengan caranya sendiri, sehingga lupa akan tugasnya sebagai hamba Allah SWT. Jika hal tersebut terjadi, maka cepat atau lambat umat manusia akan mengalami krisis akhlak.
Sebagaimana yang penulis kutip dalam sirah nabawiyyah Ar-rahiq AlMaktum, tentang perkataan hasan yakni cucu nabi muhammad SAW.
Kemudian Imam Hasan berkata, “Ceritakan kepadaku cara bicaranya.” Hind bin Abi Halah berkata, “Ia selalu tampak sendu, selalu merenung dalam, dan tidak pernah tenang. Ia banyak diamnya. Ia tidak pernah berbicara yang tidak perlu. Ia memulai dan menutup pembicaraannya dengan sangat fasih. Pembicaraannya singkat dan padat, tanpa kelebihan kata-kata dan tidak kekurangan perincian yang diperlukan. Ia berbicara lembut, tidak pernah kasar atau menyakitkan. Ia selalu menganggap besar anugerah Tuhan betapapun kecilnya. Ia tidak pernah mengeluhkannya. Ia juga tidak pernah mengecam atau memuji berlebih-lebihan apapun yang ia makan Dunia dan apapun yang ada padanya tidak pernah membuatnya marah. Tetapi, jika hak seseorang dirampas, ia akan sangat murka sehingga tidak seorang pun mengenalnya lagi dan tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya sampai ia mengembalikan hak itu kepada yang punya. Ketika menunjuk sesuatu, ia menunjuk dengan seluruh tangannya. Ketika terpesona, ia membalikkan tangannya ke bawah. Ketika berbicara,terkadang ia bersedekap atau merapatkan telapak tangan kanannya pada punggung ibu jari kirinya. Ketika marah, ia palingkan wajahnya. Ketika tersinggung, ia merunduk. Ketika ia tertawa, gigi-giginya tampak seperti untaian butir-butir hujan es.
Imam Hasan berkata, “Saya menyembunyikan berita ini dari Imam Husain sampai suatu saat saya menceritakan kepadanya. Ternyata ia sudah tahu sebelumnya. Kemudian saya bertanya kepadanya tentang berita ini. Ternyata ia telah bertanya kepada ayahnya (Imam Ali) tentang Nabi, di dalam dan di luar rumah, cara duduknya dan penampilannya, dan ia menceritakan semuanya.”[32]

Kutipan diatas tentang akhlak nabi Muhammad SAW, bahwasanya selama hidup beliau menunjukkan akhlak-akhlak yang sangat mulia. Beliau sangat tawaddu  serta rendah hati. Beliau bersikap sebagaimana kandungan Al-quran yang beliau implementasikan pada kehidupan beliau.
Jadi akhlak maupun karakter yang kita contohi, bukan kita hanya dipelajari, atau hanya sebagai sebutan atau sebagai semboyan saja, lebih penting dari itu ialah mengaplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Anas RA, juga berkata:

 "Selama sepuluh tahun aku berkhidmat kepada beliau (Rasulullah), aku tidak pernah mendengar beliau mengucapkan kata "Ah", sebagaimana beliau tidak pernah mempertanyakan apa yang kau kerjakan, 'Kenapa kamu mengerjakan ini? atau 'Bukankah seharusnya kamu mengerjakan seperti ini?" (HR Bukhari-Muslim)[33].

Demikian akhlak nabi muhammad yang penulis tulis dalam karya ilmiah ini, dan masih banyak lagi akhlak beliau yang mungkin tidak saya tuliskan dalam makalah ini, namun yang paling penting ialah kita berakhlak mulia itu merupakan ajaran islam yang tinggi.
1.      Kehidupan nabi Muhammad SAW dalam keadaan yatim piatu dan miskin, beliau juga bekerja seperti mengembala kambing, berdagang dsbgnya, juga sebelum menerima wahyu adalah dalam keadaan Ummi, artinya Nabi yang dijadikan teladan bagi umatnya itu benar-benar menyampaikan agama yang datang dari Allah swt. Bukan dibuat dan dikarang oleh nabi sendiri.
Beliau dilahirkan pada tanggal, 12 Rabiul Awal atau 22 April 571 M di kota Mekkah pada tahun Al-Fiil (gajah) dan wafat pada tanggal 8 Juni 632 M di Madinah dalam usia 63 tahun.
2.      Sifat nabi yang wajib itu sebagaimana yang kita ketahui yakni, Sidiq, Amanah, Tablig, Fathonah. Yang sangat perlu kita teladani, bahwa akhlak serta sifat beliau merupakan esensi islam yang seseungguhnya.
Serta kepribadian beliau yang lembut dan bersahaja, seperti bagaimana belliau sebagai muslim, sebagai pemimpin, sebagai suami, sebagai ayah dari anaknya, sebagai anak, sebagai cucu, dst, sebagai juru dakwah, sebagai panglima perang, serta sebagai pemersatu ummat yang berbeda-beda suku bangsa, ras, serta agama.
3.      Pada hakikatnya akhlak nabi ialah apa yang terkandung didalam Alqur’an sebagaimana yang diberitakan istri beliau Aisyah ra, akhlak beliau dibimbing Allah swt, beliau lembut, santun, serta berbudi pekerti luhur yang berasaskan iman, islam dan ihsan.
Sebagai penulis kiranya saya merasa terdapat banyak kekurangan serta kedangkalan dalam pembahasan dalam makalah ini tentang risalah nabi muhammad SAW, disebabkan terbatasnya ilmu yang saya miliki, serta sumber juga tidak begitu banyak yang saya dapatkan. Dan pembahasan tentang risalah, sifat, akhlak serta kepribadian nabi merupakan pembahasan yang cukup luas dan banyak sekalai, yang tentunya sangat terbatas untuk di kemukakan dalam karya ilmiah saya yang sederhana ini.
Untuk itu saya mengharapkan kritikan serta saran yang lebih membangun serta menambah ilmu bagi kita semua dalam pembhasan ini. Dan tentunya dalam penambahan bahan diskusi kita pada perkuliahan nanti mudaha-mudahan menjadi ilmu yang tertanam selama kehidupan kita.



DAFTAR PUSTAKA

                                                                                                         
Al-Qur’anul Kariim.

Al-Buthy, Ramadhan, Said, Muhamammad,  Sirah Nabawiyyah Jilid I, Jakarta, Rabbani Press.

Al-Mubarakfuri, Syafiyurrahman, 2014, Ar-Rahiq Al-Maktum: Sirah Nabawiyyah: Biografi Rasulullah S.A.W, Terlengkap dan Terautentik, Penerjemah, Faris Khairul Anam, Jakarta:,Qisthi Press.

Baqi, Abdul, Fuad, Muhammad, 1995,  Kumpulan Sahih Bukhari Muslim, Jakarta, Insan Kamil.

Depag RI, 2007, Alqur’an dan Terjemahnya, Bandung, Toha Putra.

Hamid, Hamdani, 2013, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung, CV. Pustaka Setia.

Hidayat, Dani, 2016, Terjemah,  Tafsir Jalalain, Tasik Malaya, myface-online.blogspot.com.

Huda,  Husnul, Sifat-sifat Rasul Allah, http://husnulhuda.weebly.com/sifat-sifat-rasul-allah.html Diakses Tanggal, 25 Mei 2017

Kamus Almunawwir, Aplikasi Kamus PC, di ambil tanggal 25 Mei 2107.

Ridho, Rasjid, Muhammad, 1983, Wahyu Illahi kepada Nabi Muhammad, Bandung: Pustaka Jaya.

Rofarif, Juman, 2015, Al-hikam Ali bin Abi Thalib: Butir-butir Hikmah Terpilih Sang Khalifah Tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Kehidupan, akarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Supriyadi, Dedi, 2008, Sejarah Peradaban Islam, Bandung, Pustaka Setia.

Setiawan, Ebta, 2017, Kamus Besar Bahasa Indonesia On Line, http:// kbbi. web. id/ sifat, Data Base: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa  Kemdikbud RI.

Sinn, Abu, Ibrahim, Ahmad, 2016, Manajemen Syariah; Sebuah Kajian Historis dan Kontemporer, Jakarta: PT Raja Grafido Persada.

Umar, Muhammad,  Mu’in, Abdul, 2008, Khadidjah, The True Love Story of Muhammad SAW, Jakarta: Pena Pundi Aksara.




[1] Depag RI, Alqur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Toha Putra, 2007), h. 420
[2] Dani Hidayat, Terjemah Tafsir Jalalain, (Tasik Malaya: myface-online.blogspot.com), h. 122
[3] Muhammad Fuad Abdul Baqi,  Kumpulan Sahih Bukhari Muslim, (Jakarta: Insan Kamil, 1995), h.197.
[4] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 56
[5] Kamus Almunawwir, Aplikasi Kamus PC, di ambil tanggal 25 Mei 2107.
[6] Depag RI, Op., Cit., h. 
[7] Dedi Supriadi,Op., Cit.,  h. 06
[8] Syafiyurrahman  Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Maktum: Sirah Nabawiyyah: Biografi Rasulullah S.A.W, Terlengkap dan Terautentik, Penerjemah, Faris Khairul Anam, (Jakarta: Qisthi Press, 2014), h. 56.
[9] Ibid.
[10] Dedi Supriyadi, Op., Cit., h. 34
[11] Depag RI, Op., Cit., h. 267
[12] Muhammad Fuad Abdul Baqi,  Op., Cit., h.334
[13] Ebta Setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia On Line, http:// kbbi. web. id/ sifat, (Data Base: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud RI), Diakases tanggal 11 maret 2017.
[14] Ibid.
[15] Depag RI, Op., Cit., h.
[16] Ibid., h. 526
[17] Juman Rofarif, Al-hikam Ali bin Abi Thalib: Butir-butir Hikmah Terpilih Sang Khalifah Tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Kehidupan, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2015), h. 24
[18]  Ibid., h. 159
[19] Ahmad Ibrahim Abu Sinn, Manajemen Syariah; Sebuah Kajian Historis dan Kontemporer, (Jakarta: PT Raja Grafido Persada, 2006), h. 77
[20] Ibid., h. 573
[21] Ibid., h. 585
[22] Muhammad Rasjid Ridho, Wahyu Illahi kepada Nabi Muhammad, (Bandung: Pustaka Jaya, 1983), h. 337
[23] Depag RI, Op., Cit., h. 
[24] Husnul Huda, Sifat-sifat Rasul Allah, http://husnulhuda.weebly.com/sifat-sifat-rasul-allah.html Diakses Tanggal, 25 Mei 2017
[25]  MuhammadSa’id Ramadhan Al- Buthy, Sirah Nabawiyyah Jilid I, (Jakarta: Rabbani Press, t.th), h. 21.
[26] Abdul Mu’in Muhammad Umar, Khadidjah, The True Love Story of Muhammad SAW, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2008), h. 91
[27] Depag RI, Op., Cit., h. 36.
[28] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Op., Cit., h.204.
[29] Hamdani Hamid, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 20130, h.43.
[30] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Op., Cit., h. 56.
[31] Ibid, h. 167
[32] Syafiyurrahman  Al-Mubarakfuri, Op., Cit., h. 98
[33] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Op., Cit., h. 99

Tidak ada komentar: