Tentang
keagungan akhlak serta sifat dan kepribadian Nabi Muhammad SAW, Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab,
ayat 21, yang berbunyi:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut
Allah”.(Q.S. Al-Ahzab:21).[1]
Di
dalam Tafsir AL-Jalalain dijelaskan tentang ayat diatas:
(Sesungguhnya telah ada pada
diri Rasulullah itu suri teladan bagi kalian) dapat dibaca iswatun dan uswatun
(yang baik) untuk diikuti dalam hal berperang dan keteguhan serta kesabarannya,
yang masing-masing diterapkan pada tempat-tempatnya (bagi orang) lafal ayat ini
berkedudukan menjadi badal dari lafal lakum (yang mengharap rahmat Allah) yakni
takut kepada-Nya (dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah) berbeda halnya
dengan orang-orang yang selain mereka.[2]
|
1
|
harus bertujuan rahmat
dan ridho Allah swt, serta menyadari serta meyakini bahwa hari kiamat
akan datang, serta yang sangat pentingnya ialah, bahwa orang yang ber-akhlakulkarimah
itu ialah orang yang selalu mengingat Allah swt disetiap niat dan perbuatan
kita sehari-hari.
Nabi
Muhammad adalah Nabi sekaligus Rasul paling akhir dari sekian banyak nabi yang
diturunkan oleh Allah SWT ke dunia ini. Tugas utama nabi Muhammad diutus adalah
menyampaikan risalah kenabian yang Allah turunkan melalui wahyu yang
disampaikan oleh malaikat jibril.
Namun
sesungguhnya Ada misi lain yang lebih penting kenapa nabi muhammad diutus yaitu
untuk menyempurnakan akhlak seluruh umat manusia di dunia ini. Sebagaimana sabda
beliau yang berbunyi
إِنَّمَا بُعِثْتُ
لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ.
Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan Keshalehan akhlak”. (HR: Bukhari).[3]
Akhlak mulia ialah tingkah laku yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus
menerus. Jika hanya sekali melakukannya, maka tidak dapat disebut dengan
perbuatan terpuji. Manusia bisa berakhlak baik jika timbul dengan sendirinya
didorong oleh tuntunan sesuai ayat-ayat suci Al Quran dan Islam. Merupakan
tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk
melakukan suatu perbuatan yang baik. Tapi sebaliknya tegaknya aktifitas
keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang bisa membuat manusia
memiliki kelakuan yang baik (akhlaqul kariimah).
Dalam arti
kata pada pengertian yang hakiki, bahwa akhlak yang baik timbul dari aqidah
yang baik, amalan yang taat kepada Allah SWT, serta memahami serta setidaknya
dapat mengaplikasikan Konsep Ihsan alam semua perbuatan dan tindakan
dalm hubungan manusia dengan sang Khaliq serta hubungan manusia dengan Makhluq
ciptaanNya.
Nabi Muhammad SAW
dilahirkan ditengah-tengah zaman jahliyah bangsa arab masa itu, “peradaban
jahiliyah yang keprcayaan mayoritas mereka ialah menganut agama asli mereka
yaitu percaya pada banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan
patung-patung. setiap kabilah mereka mempunyai berhala-berhala sendiri, yang
berpusat di ka’bah”[4]
Jahiliyah berasal
dari kata Jahlan, yajhalun, yang berarti “ketidak tahuan atau kebodohan,
atau tidak mau tahu dengan, tidak mengetahui, tidak terbiasa dengan, tidak acuh
tentang.” [5] mereka menetapkan hukum
sesuai dengan keputusan suku masing-masing, dan aqidahnya pun menyesuiakan suku
masing-masing pula, kondisi sosial arab meskipun primitif, namun mempunyai
peradaban yang tinggi, dalam artian mereka bukan jahil dalam masalah pemikirian
peradaban, mereka jahil dalam masalah akidah. Sebagai salah satu contoh
peradaban mereka yang diakui dunia ialah bahasa arab, yang mana banyak
para pakar sepakat bahwa bahasa arab
adalah bahasa yang terbaik di dunia. Bahakan Allah memilih Bahasa Alquran
menggunakan bahasa arab.
Mereka cenderung
hidup berpoya-poya, bersenang-senang, mereka boleh mengawini banyak wanita
dengan menetapkan waktu tertentu yang biasa di sebut nikah mut’ah, dan para
suami boleh meminta kepada orang yang dianggap mulia untuk menjimak istrinya
untuk mendapatkan kturunan yang menurut mereka akan maulia pula. Dan banyak
lagi aturan lain yang mereka tentukan sesuai dengan kesepakatan setiap suku
masing-masing. Ditengah peradaban yang begitulah Nabi muhammad diutus untuk menyempurnakan
akhlak serta akidah yang sempurna. Sebagaimana firman Allah:
tb%x. â¨$¨Z9$#
Zp¨Bé&
ZoyÏnºur
y]yèt7sù
ª!$#
z`¿ÍhÎ;¨Y9$#
úïÌÏe±u;ãB
tûïÍÉYãBur
tAtRr&ur
ãNßgyètB
|=»tGÅ3ø9$#
Èd,ysø9$$Î/
zNä3ósuÏ9
tû÷üt/
Ĩ$¨Z9$#
$yJÏù
(#qàÿn=tF÷z$#
ÏmÏù
4 $tBur
y#n=tG÷z$#
ÏmÏù
wÎ)
tûïÏ%©!$#
çnqè?ré&
.`ÏB
Ï÷èt/
$tB
ÞOßgø?uä!%y`
àM»oYÉit6ø9$#
$Jøót/
óOßgoY÷t/
( yygsù
ª!$#
úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
$yJÏ9
(#qàÿn=tF÷z$#
ÏmÏù
z`ÏB
Èd,ysø9$#
¾ÏmÏRøÎ*Î/
3 ª!$#ur
Ïôgt
`tB
âä!$t±o
4n<Î)
:ÞºuÅÀ
?LìÉ)tGó¡B
ÇËÊÌÈ
Artinya:
Manusia
itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus
Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka
kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang
mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang
yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka
Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal
yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi
petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.(Q.S
Al-Baqarah: 213).[6]
Nabi Muhammad SAW
adalah seorang nabi sekaigus rasul terakhir yang diutus ke muka bumi untuk
membawa umatnya ke jalan yang benar. Beliau terlahir dari seorang ibu yang
bernama Siti Aminah dan Ayah yang bernama Abdullah, yang
dilahirkan pada hari Senin, “12 Rabiul Awal atau 22 April 571 M di
kota Mekkah pada tahun Al-Fiil (gajah) dan wafat pada
tanggal 8 Juni 632 M di Madinah dalam usia 63 tahun”.[7]
Nabi Muhammad
dilahirkan dalam keadaan yatim, karena ketika nabi Muhammad masih dalam
kandungan, Abdullah telah meninggal dunia. Nama lengkap Muhammad bin
Abdullāh ini merupakan seorang yang terlahir dari keluarga Bani Quraisy yang
membawa ajaran agama Islam. Nama Muhammad artinya orang yang terpuji. Nama
ini diberikan oleh kakek tercintanya yaitu Abdul Muthalib[8].
Nabi Muhammad
sejak kecilnya telah diberikan kehidupan layaknya manusia biasa, padahal beliau
sangat dimuliakan oleh Allah SWT, dan pada usia 6 tahun beliau ditinggal oleh
ibunya. Sehingga beliau menjadi seorang yatim piatu, beliau merasakan apa yang
dialami oleh manusia pada umumnya. Dan diusianya yang ke 8 tahun, beliau
ditinggal oleh kakeknya Abdul Muthalib. Kehidupan yang beliau jalani dapat
menjadi panutan seluruh umat manusia.
Nabi Muhammad disusui oleh Tsuaibah
selama 3 hari dan oleh kakeknya beliau disusukan juga kepada Halimah As-Sa’diyah
dan berada dalam asuhannya kurang lebih 6 tahun. Dalam usia 5 bulan beliau
sudah bisa berjalan dan pada usia 9 bulan sudah lancar berbicara. Semasa
kecilnya beliau juga telah menggembalakan kambing. Abu Thalib (paman nabi) mengajak berdagang ketika
usianya 12 tahun ke negri Syam. Beliau diasuh pamannya setelah ditinggal wafat
kakeknya, dan mengasuh serta menjaga nabi sampai pada usia lebih dari 40
tahun[9].
Rasulullah SAW menerima wahyu untuk menyampaikan dan menyiarkan
ajaran agama Islam dan mengajak umat manusia untuk menyembah Allah
SWT. Beliau menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Adapun orang-orang
yang pertama masuk Agama Islam atau disebut dengan Assabiqunal Awwwalun yaitu
keluarga dan para sahabatnya, yaitu: istrinya Siti Khadijah, sahabatnya Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As-Shiddiq, anak
angkatnya Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair dan masih banyak lagi
keluarga dan para sahabat Rasul yang lainnya.
Selama 3 tahun lamanya Rasulullah SAW berdakwah secara
sembunyi sembunyi dari satu rumah ke rumah lainnya. Kemudian ini lah yang
menjadi Asbabunnuzul turunnya surat Al Hijr ayat 94[10],
yang Berbunyi:
÷íyô¹$$sù $yJÎ/ ãtB÷sè? óÚÌôãr&ur Ç`tã tûüÏ.Îô³ßJø9$# ÇÒÍÈ
Artinya:
“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala
apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik (QS Al Hijr: 94)”.[11]
Dengan turunnya ayat ini maka Rasulullah SAW menyiarkan dakwahnya
secara terang-terangan. Tanggapan orang-orang Quraisy pada saat itu sangat
marah dan melarang penyiaran islam yang dibawa oleh nabi bahkan nyawa nabi
Muhammad sangat terancam. Namun Nabi dan para sahabatnya semakin kuat dan
tangguh menghadapi tantangan dan hambatan yang dihadapi dengan ketabahan serta
sabar walau ejekan, caci maki, olok-olokan dan menentang seluruh ajaran Nabi.
Sudah sama-sama
kita ketahui juga bahwa Pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW tahun ke 10 pada
saat “Amul Huzni” yaitu tahun
duka cita dimana pamannya Abu Thalib dan istrinya Siti Khadijah wafat serta
umat Islam dalam keadaan sengsara. Ditengah-tengah kesedihannya, beliau
dijemput Malaikat Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu melakukan perjalanan
dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram sampai ke Sidratul Muntaha untuk
menghadap Allah SWT dan untuk menerima perintah shalat lima waktu. Pada
tahun 10 H nabi melakukan haji wada’ atau haji terakhir. Dalam wukufnya di
Arafah, beliau menyampaikan khutbahnya yang berisikan tentang larangan
melakukan penumpahan darah kecuali dengan cara yang benar, larangan mengambil
harta orang lain dengan cara yang tidak benar, larangan memakan harta riba,
hamba sahaya harus diperlakukan dengan cara yang baik, dan agar umatnya selalu
berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunah Nabi SAW. Setelah berdakwah selama
23 tahun, beliau wafat pada usia 63 tahun.
Sebagaimana sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ
لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ.
Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan Keshalehan akhlak”. (HR: Bukhari).[12]
Misi utama dan pertama kali Rasulullah ialah menyempurnakan akhlak
umat manusia, karena pada masa sebelum kelahiran nabi muhammad SAW, peradaban
manusia sangat tidak baik, zaman jahiliyah itu harkat dan martabat manusia
tidak berharga kecualai orang yang kuat dan yang kaya. Mereka menyembah
berhala-berhala, lebih kurang 300 berhala yang mereka sembah, maka
ditengah-tengah masyarakat itu Rasulullah dilahirkan, dengan memperbaiki akidah
hingga ibadah, muamalah, ekonomi, politik dan peradaban baru hingga membentuk
serta mencontohi akhlakulkarimah bagi umatnya, hingga zaman sekarang
sampai hari kiamat kelak.
Sifat dalam kamus bahasa
indonesia yakni; “1 rupa dan keadaan yang tampak pada suatu benda; tanda
lahiriah, 2. peri keadaan yang menurut kodratnya ada pada
sesuatu (benda, orang, dsb): 3. ciri khas yang ada pada sesuatu (membedakan dari
yang lain): 4. dasar watak (dibawa sejak lahir)”[13]
Namun secara sederhana, sifat merupakan ciri-ciri
tingkah laku atau perbuatan yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari
dalam diri seperti pembawaan, minat, konstitusi tubuh, dan cenderung bersifat
tetap/stabil.
Sedangkan Kepribadian adalah “keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam
istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang”.[14]
Petunjuk hidup Umat Islam adalah
Al Qur’an (firman Allah), namun contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari
adalah kepribadian Rasulullah SAW. Dalam diri dan pribadi Rasulullahlah
penjabaran Al-Qur`an di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad
memiliki akhlaq dan sifat-sifat yang sangat mulia. Oleh karena itu hendaklah
kita mempelajari sifat-sifat Nabi seperti Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan
Tabligh. Mudah-mudahan dengan memahami sifat-sifat itu, selain kita bisa
terhindar dari mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, kita juga bisa
meniru sifat-sifat Nabi sehingga kita juga jadi orang yang mulia.
Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi
juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya. Beda sekali dengan
pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun
perbuatannya berbeda dengan ucapannya. Sifat nabi ini dijelaskan dengan terang
dalam Al-quran, yang berbunyi:
$oYö7ydurur
Mçlm;
`ÏiB
$uZÏFuH÷q§
$uZù=yèy_ur
öNçlm;
tb$|¡Ï9
A-ôϹ
$wÎ=tã
ÇÎÉÈ
Artinya:
dan
Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan
mereka buah tutur yang baik lagi tinggi. (QS.
Maryam:50).[15]
Sifat
Rasulullah diterangkan diatas dianugrahkan Allah kepada utusannya, apa yang diucapkan Nabi Muhammad saw. merupakan ucapan yang
datangnya dari Allah SWT. yang sudah pasti kebenarannya dan merupakan
contoh ummat Nabi muhammad SAW, setiap tingkah laku, perkataan,perbuatan nabi
merupakan akhlak yang paling baik dan tinggi. Maka Mustahil Nabi itu bersifat pembohong/kizzib, dusta, dan
sebagainya. Sebagaimana Firman Allah SWT:
Artinya:
$tBur ß,ÏÜZt
Ç`tã
#uqolù;$#
ÇÌÈ ÷bÎ)
uqèd
wÎ)
ÖÓórur
4Óyrqã
ÇÍÈ
Artinya:
“Dan Tiadalah
yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”.(Q.S
An-Najm: 3-4).[16]
Ali mengatakan: “Sesungguhnya beliau adalah
manusia yang paling benar ucapannya”.[17]
Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi
Muhammad saw. dapat diketahui apakah beliau marah atau senang. Beliau tidak
pernah mengatakan kata-kata yang munkar dan tidak mengatakan baik dalam keadaan
senang atau dalam keadaan marah kecuali yang benar, dan beliau berpaling dari
orang yang mengucapkan kata-kata yang tidak baik. Beliau adalah orang yang
paling disenangi, bila gembira dia senang dan bila memberi nasihat beliau
memberikannya dengan sungguh-sungguh. Apabila beliau marah karena Allah taala
bukan karena kepentingan pribadinya.
Amanah artinya
benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya
orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh
karena itulah Nabi Muhammad SAW dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al
Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa
pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah
orang yang pembohong.
öNà6äóÏk=t/é&
ÏM»n=»yÍ
În1u
O$tRr&ur
ö/ä3s9
îûüÏBr&
îw¾¾$tR
ÇÏÑÈ
“Aku
menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat
yang terpercaya bagimu.”(Q.S, Al A'raaf: 68)[18]
Sifat amanah Rasulullah Memberi bukti bahwa beliau adalah orang
yang dapat dipercaya, beliau mampu memelihara kepercayaan dengan merahasiakan
sesuatu yang harus dirahasiakan dan sebaliknya selalu mampu menyampaikan
sesuatu yang seharusnya disampaikan.
Sesuatu
yang harus disampaikan bukan saja tidak ditahan-tahan, tetapi juga tidak akan
diubah, ditambah atau dikurangi. Demikianlah kenyataannya bahwa setiap firman
selalu disampaikan Nabi sebagaimana difirmankan kepada beliau. Dalam peperangan
beliau tidak pernah mangurangi harta rampasan untuk kepentingan sendiri, tidak
pernah menyebarkan aib seseorang yang datang meminta nasihat dan petunjuknya
dalam menyelesaikannya dan lain-lain. Sifat amanah ini berarti juga jujur dalam
menunaikan tugas-tugas kerasulan, dengan tidak menutup-nutupi wahyu yang
diturunkan, Artinya Nabi tidak sekedar menyampaikan yang menguntungkan dan
tidak menyampaikan yang merugikan diri beliau sendiri.[19]
Contoh yang kongkrit dari riwayat kehidupan nabi Muhammad SAW,
yakni Kemiskinan yang beliau alami adalah sebagai bukti bahwa beliau
benar-benar hanya memikirkan tugasnya untuk berdakwah (mendidik) umatnya.
Beliau tidak pernah takut kemiskinan, karena semenjak menjadi Rasul keseluruhan
hidupnya hanya untuk menyebarkan syiar Islam yang telah menjadi amanahnya. Maka
mustahil Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah. Ketika Nabi Muhammad SAW ditawari kerajaan, harta, wanita oleh
kaum Quraisy agar beliau meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam,
beliau menjawab:
”Demi Allah…wahai
paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan
di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suciku, maka aku tidak akan
meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-Nya”……
Meski kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Nabi, namun Nabi tidak
gentar dan tetap menjalankan amanah yang dia terima.
Seorang Muslim harusnya bersikap amanah seperti Nabi.
Tabligh artinya
menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh
Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.
Sebagaimana firman Allah SWT:
zOn=÷èuÏj9 br& ôs% (#qäón=ö/r& ÏM»n=»yÍ öNÍkÍh5u xÞ%tnr&ur $yJÎ/ öNÍköys9 4Ó|Âômr&ur ¨@ä. >äóÓx« #Oytã ÇËÑÈ
Artinya:
“Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya
rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang
(sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung
segala sesuatu satu persatu.” (Q.S: Al Jin:
28)[20]
Dan juga tentang ayat yang menyindir nabi Muhammad, bahwa Nabi
tetap menyampaikan kepada umat, itu menandakan bahwa Nabi itu tablig.
}§t6tã #¯<uqs?ur
ÇÊÈ br&
çnuä!%y`
4yJôãF{$#
ÇËÈ
“Dia
(Muhammad) bermuka masam dan berpaling,karena telah datang seorang buta
kepadanya” (Q.S: 'Abasa 1-2)[21]
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah Dalam Surat
‘abasa diatas, turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang
kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya
Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar
kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap
mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya
katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Ayat turun sebagai
teguran atas perbuatan Rasulullah SAW.(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan
al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang
bersumber dari Anas.)
Sebetulnya apa yang dilakukan Nabi itu menurut standar umum adalah
hal yang wajar. Saat sedang berbicara di depan umum atau dengan seseorang,
tentu kita tidak suka diinterupsi oleh orang lain. Namun untuk standar Nabi,
itu tidak cukup. Oleh karena itulah Allah menegurnya.
Sebagai seorang yang
tabligh, meski ayat itu menyindirnya, Nabi Muhammad tetap menyampaikannya
kepada kita. Itulah sifat seorang Nabi. Tidak mungkin Nabi itu Kitman
atau menyembunyikan wahyu.
Berikut ini beberapa kisah yang menguatkan bahwa Nabi bersifat
tabligh, yakni :
1. Adanya al-Quran sebagai mukjizat.
Bukti bahwa Nabi Muhammad saw. memiliki sifat tabligh sebagai sifat
rasul yakni diturunkannya al-Quran sebagai mukjizat terbesarnya untuk
disampaikan kepada ummat. Pada permulaann kerasulannya Rasulullah menyebarkan
agama Islam secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah cukup memperoleh pengikut
Nabi diperintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Sehingga pada suatu
ketika Rasulullah saw. naik ke bukit Safa di Makkah berteriak dengan lantang
memanggil bangsa Quraisy untuk menyatakan diri menyembah kepada Allah dan
meninggalkan berhala serta bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Setelah
berpidato mereka orang-orang Quraisy menghina dan mengatakan bahwa Muhammad
orang gila.
Kisah ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad saw. Telah memulai
misinya sebagai rasul untuk bertabligh kepada umatnya meskipun mendapat
cercaan, hinaan namun beliau tetap menghadapinya dengan penuh kesabaran.
2. Peristiwa Israk Mikraj
Melalui perjalanan inilah Rasulullah saw. diperkuat oleh Allah misi
kerasulannnya dengan di-israk mikraj-kannya Nabi Muhammad saw. ke langit
diperlihatkannya tanda-tanda kebesaran Allah kepada Nabi Muhammad saw. Satu
hikmah terbesar dari peristiwa itu yakni diperintahkan dan diwajibkannya sholat
lima waktu kepada semua orang Islam yang menjadi tiang dasar dan tegaknya Islam
selanjutnya.
Peristiwa ini kemudian ditablighkan nabi kepada ummatnya yang
akhirnya mendapat sambutan dari orang Quraisy dengan sambutan yang baik dan
dapat menerimanya seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, tetapi juga mendapat penolakan
dan cemoohan dari mereka yang baru masuk Islam. [22]
Hal tersebut kiranya telah kita ketahui bahwa tugas pokok yang
ditanggung Nabi Muhammad saw di tengah-tengah masyarakat jahiliah yang
menyembah banyak Tuhan, untuk mengajak manusia mengimani ke-Esaan-Nya dan hanya
menyembah kepada Allah melalui peringatan-peringatan yang disampaikannya kepada
umat. Hal ini senada dengan al-Quran surat Al-Anbiyaa’ ayat 108:
قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ
Artinya:
“Katakanlah: sesungguhnnya yang diwahyukan kepadaku adalah bahwa
saya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kamu berserah diri
(kepada) Nya. (QS. Al-Anbiya: 108).[23]
Artinya Cerdas. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahlun. Dalam
menyampaikan 6.236 (sebagian pendapat) 6666 ayat Al Qur’an kemudian
menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar
biasa.
Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya
sehingga mereka mau masuk ke dalam Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan
orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.
Apalagi Nabi mampu mengatur ummatnya sehingga dari bangsa Arab yang
bodoh dan terpecah-belah serta saling perang antar suku, menjadi satu bangsa
yang berbudaya dan berpengetahuan dalam 1 negara yang besar yang dalam 100
tahun melebihi luas Eropa. Itu semua membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.
Namun dalam risalah beliau sebagai
seorang nabi sekaligus rasul, Setidaknya ada 3 hal kepribadian Nabi Muhammad
SAW, yang sudah semestinya kita teladani, yaitu : Keteladanan Nabi sebagai
Pribadi Muslim , keteladanan Nabi sebagai Pemimpin, dan keteladanan Nabi
sebagai Panutan dalam Rumah Tangga dan lingkungan Masyarakat.
Andaikan para Nabi dan Rasul tidak bersifat Fathonah,maka tentunya
mereka bersifat Baladah.Jika Nabi dan Rasul bersifat Baladah maka mereka pasti
tidak akan mampu menjawab dan menundukkan argumentasi musuh-musuhnya dalam
perdebatan.Padahal yang demikian ini mustahil sebab kenyataan telah terbukti
dalam perdebatan mereka mampu mengalahkan musuhnya .Banyak saksi-saksi yang
melihat kemampuan mereka, diantaranya Al Qur an sendiri banyak menceritakan
kisahnya.[24]
Secara rinci sebagaimana yang kami
kutip pendapat Muhammad Sa’id Ramadhan Al- Buthy dalam bukunya Sirah Nabawiyah,
terbitan Rabbani Press[25],
yang dapat diuraikan secara rinci sebagai berikut:
1. Sebagai Pribadi Muslim, Nabi Muhammad SAW memiliki :
a) Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
b) Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
c) Akhlaqul Karimah (budi pekerti yang mulia)
2. Dalam bidang Muamalah
memiliki:
a. Qowiyyul Jismi (jasmani yang kuat)
b. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
c. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
d. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
e. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
f. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri
/ mandiri)
g. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
3. Sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW memiliki :
a) Keteladanan dalam iman.
Seorang Pemimpin Umat yang beriman
dan taat (taqwa) kepada Allah, dalam pengambilan keputusan dan kebijakannya
selalu mengacu kepada kebenaran. Kesatuan antara perkataan, hati dan perbuatan
tercermin dalam sikapnya yang ikhlas dalam mencari ridho-Nya.
b) Keteladanan dalam akhlak.
Akhlak yang mulia, dapat menyentuh
hati. Sebagaimana riwayat adanya seorang yahudi buta yang sangat membenci
Rasulullah dapat masuk Islam , karena akhlak mulia Beliau. Tak pernah lupa,
Beliau selalu menyuapi orang buta itu setiap hari, walaupun dicaci maki dan
dihina setiap hari. Tapi Beliau terus sabar dan ikhlas, bahkan Nabi pun selalu
mengelus punggung orang buta tadi, layaknya kepada seorang anak kecil.
Keteladanan dalam pengorbanan Seorang pemimpin adalah orang yang harus lebih
banyak berkorban dari pada orang yang dipimpinnya. Dia mengorbankan waktunya,
pikiranya, dan hartanya untuk kepentingan bersama. Dia bersedia untuk turun
langsung membantu orang-orang yang dipimpinnya. Tidak hanya sekedar mengarahkan
dan menyuruh, tapi dia bersama-sama pengikutnya melakukannya.
c) Keteladanan dalam menghadapi
masalah.
Rasulullah pun selalu dapat memberikan
solusi jika terdapat konflik atau masalah. Solusinya pun tepat sasaran. Bahkan
Beliau dapat menyikapi perbedaan pendapat yang ada dalam pengikutnya. Jika
pemimpin dapat memberikan keteladan, insya Allah maka perubahan ke arah yang
lebih baik dapat terjadi. Pemimpin itu ibarat sumber mata air di hulu. Bila di
hulu airnya telah keruh, maka kebawahnya akan keruh juga. Jika dari sumbernya
telah bersih dan jernih, makan kebawahnya pun Insya Allah akan bersih juga.
4. Sebagai Panutan dalam Hidup
Berumah tangga.
Bagi orang-orang yang telah berkeluarga, maka
Rasulullah teladan yang terbaik. Beliau tidak pernah berkata kasar kepada
isteri dan anaknya. Adapun sikap Nabi dengan keluarganya sebagai berikut[26]:
a) Bersikap Adil Nabi Muhammad saw.
sangat memperhatikan perilaku adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal,
termasuk sesuatu yang remeh dan sepele. Beliau adil terhadap istri-istrinya
dalam pemberian tempat tinggal, nafkah, pembagian bermalam, dan jadwal
berkunjung. Beliau ketika bertandang ke salah satu rumah istrinya, setelah itu
beliau berkunjung ke rumah istri-istri beliau yang lain.
b) Bermusyawarah Dengan Istrinya,
Rasulullah saw mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan.
Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. Padahal wanita pada masa
jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata,
dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan
urusan yang langsung dan khusus dengannya. Islam datang mengangkat martabat
wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak qawamah atau
kepemimpinan keluarga, berada ditangan laki-laki. Allah swt berfirman:
£`çlm;ur ã@÷WÏB Ï%©!$# £`Íkön=tã Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 4 ÉA$y_Ìh=Ï9ur £`Íkön=tã ×py_uy 3 ª!$#ur îÍtã îLìÅ3ym ÇËËÑÈ
Artinya:
“Dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya
menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan
kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Q.S, Al-Baqarah: 228).[27]
c) Lapang Dada dan Penyayang Istri-istri
Rasulullah saw memberi masukan tentang suatu hal kepada Nabi, beliau menerima
dan memberlakukan mereka dengan lembut. Beliau tidak pernah memukul salah
seorang dari mereka sekali pun. Belum pernah terjadi demikian sebelum datangnya
Islam.
d) Pelayan Bagi Keluarganya
Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan khidmah atau pelayanan ketika di dalam
rumah. Beliau selalu bermurah hati menolong istri-istrinya jika kondisi
menuntut itu. Rasulullah saw bersabda: “Pelayanan Anda untuk istri Anda adalah
sedekah.” Adalah Rasulullah saw mencuci pakaian, membersihkan sendal dan
pekerjaan lainnya yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya”.
e) Berhias Untuk Istrinya, Rasulullah
saw mengetahu betul kebutuhan sorang wanita untuk berdandan di depan laki-lakinya,
begitu juga laki-laki berdandan untuk istrinya. Adalah Rasulullah saw paling
tampan, paling rapi di antara manusia lainnya. Beliau menyuruh
sahabat-sahabatnya agar berhias untuk istri-istri mereka dan menjaga kebersihan
dan kerapihan. Rasulullah saw bersabda: “Cucilah baju kalian. Sisirlah rambut
kalian. Rapilah, berhiaslah, bersihkanlah diri kalian. Karena Bani Isra’il
tidak melaksanakan hal demikian, sehingga wanita-wanita mereka berzina.”
f) Bercanda dengan keluarganya, Rasulullah
saw tidak tidak lupa bermain, bercanda-ria dengan istri-istri beliau, meskipun
tanggung jawab dan beban berat di pundaknya. Karena rehat, canda akan
menyegarkan suasan hati, menggembirakan jiwa, memperbaharui semangat dan
mengembalikan fitalitas fisik. Dari Aisyah ra berkata: “Kami keluar bersama
Rasulullah saw dalam suatu safar. Kami turun di suatu tempat. Beliau memanggil
saya dan berkata: “Ayo adu lari” Aisyah berkata: Kami berdua adu lari dan saya
pemenangnya. Pada kesempatan safar yang lain, Rasulullah saw mengajak lomba
lari. Aisyah berkata: “Pada kali ini beliau mengalahkanku. Maka Rasulullah saw
bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.”
Dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallohu'anhu
Rosulullah Sholallohu 'alaihi wasallam
dalam salah satu do'anya beliau mengucapkan :
اَلَّهُمَّ ا
هْدِ نِيْ لِأَ حْسَنِ الأَ خْلاَ قِ، فَاِ نّهُ لاَ يَهْدِ يْ لِأَ حْسَنِهَا
اِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ
عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَسْرِفُ عَنِّىْ سَيِّئَهَا اِلَّا اَنْتَ
"Ya Allah... tunjukanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena
tidak ada yang bisa menunjukannya selain engkau. Ya Allah... Jauhkanlah aku
dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku
selain engkau".(HR. Muslim 771)[28]
Akhlak menurut bahasa artinya karakter,
perilaku dan budi pekerti. Sedangkan menurut istilah, akhlak mulia adalah
menghiasi diri dengan kebaikan dan menahan diri dari kejelekan. Dan kebaikan
sendiri harus sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Akhlak secara terminologi berarti “tingkah
laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan
suatu perbuatan
yang baik, Akhlak merupakan bentuk jamak
dari kata khuluqun, berasal dari bahasa Arab yang
berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat”[29].
Cara
membedakan akhlak, moral dan etika yaitu dalam etika, untuk menentukan nilai
perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolok ukur akal pikiran atau
rasio, sedangkan dalam moral dan susila menggunakan tolok ukur norma-norma yang
tumbuh dan berkembang dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat),
dan dalam akhlaq menggunakan ukuran Al Qur’an dan Al Hadis untuk menentukan
baik-buruknya.
Sebagaimana
yang disampaikan Aisyah Istri Nabi, bahwa akhlak nabi ialah Al-qur’an.(H.R,
Muslim)[30]
Artinya segala apapun yang berhubungan dengan
perkataan, perbuatan dan kehidupan beliau sesuai Al Quran. Merupakan hal
penting untuk memberikan makna kepada kehidupan di dunia dan akhirat. Karena
akan berdampak positif kepada kehidupan diri sendiri dan orang lain. Ketika
berhadapan dengan orang-orang kejam, jahat, penguasa zalim yang melancarkan
berbagai aksi cacian, penghinaan, fitnah dan ejekan pun harus diterimanya. Luar
biasanya, semua hal tersebut beliau lalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Dalam sebuah
hadist Rasulullah Bersabda:
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk
disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah
seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat
hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada
seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan
Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku
tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “
Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain
Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat,
menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia
berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula
yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang
Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan
engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia
berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku
tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada
Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia
melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat
(kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari
yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “,
beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau
melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba,
(kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu
berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “
Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian
(bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (HR. Muslim)[31]
Kutipan pengertian Ihsan yang dikemukakan Rasulullah dalam hadis diatas
yakni :أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
artinya, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau
melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”.
Hemat penulis, ibadah diatas dalam pengertian yang luas, yakni semua
perbuatan, perkataan, maupun ‘itikad yang bernilai ibadah maka perbuatan itu
haruslah bertujuan serta mengharapkan rahmat Allah, swt. Dan kemudian akhlak
yang baik tadi kita pelajari dan kita biasakan sehingga mendarah daging. Dengan
Ihsan pula kita menjauhi segala yang dilarag-Nya dengan tujuan ridho dan rahmat
Allah swt.
Ada banyak akhlak Nabi Muhammad Saw yang harus kita teladani. Bahkan semua
perbuatan, perkataan, dan tingkah laku beliau haris kita contohi. Beliau hadir
ditengah masyarakat jahiliyyah dengan akhlak beliau yang lembut dapat merubah
peradaban umat manusia keperadaban yang tinggi.
Diantara akhlak Nabi SAW sesuai Al
Quran yaitu dermawan, ramah, sabar, tidak sombong, tidak munafik, memuliakan
anak yatim, menyayangi binatang, jujur, menghormati non muslim, menjauhi
larangan dan menjalankan perintah Allah SWT. Selain itu beliau memadukan takwa
kepada Allah dan sifat-sifat mulia. Sehingga akan melahirkan cinta seseorang
kepada-Nya. Takwa kepada Allah SWT dapat memperbaiki hubungan antara seorang
hamba dan Tuhannya, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan
sesamanya.
Apalagi Untuk zaman sekarang ini, yang
terbaik adalah yaitu mengimbangi kemajuan di bidang teknologi informasi dengan
keimanan yang sesuai tuntunan Al Quran dan Hadits. Manusia yang hanya mengikuti
dorongan nafsu liar dan amarah saja untuk mengejar kedudukan dan harta benda
dengan caranya sendiri, sehingga lupa akan tugasnya sebagai hamba Allah SWT.
Jika hal tersebut terjadi, maka cepat atau lambat
umat manusia akan mengalami krisis akhlak.
Sebagaimana yang penulis kutip dalam sirah nabawiyyah Ar-rahiq AlMaktum,
tentang perkataan hasan yakni cucu nabi muhammad SAW.
Kemudian Imam Hasan berkata, “Ceritakan
kepadaku cara bicaranya.” Hind bin Abi Halah berkata, “Ia selalu tampak sendu,
selalu merenung dalam, dan tidak pernah tenang. Ia banyak diamnya. Ia tidak
pernah berbicara yang tidak perlu. Ia memulai dan menutup pembicaraannya
dengan sangat fasih. Pembicaraannya singkat dan padat, tanpa kelebihan
kata-kata dan tidak kekurangan perincian yang diperlukan. Ia berbicara lembut,
tidak pernah kasar atau menyakitkan. Ia selalu menganggap besar anugerah Tuhan
betapapun kecilnya. Ia tidak pernah mengeluhkannya. Ia juga tidak pernah mengecam
atau memuji berlebih-lebihan apapun yang ia makan Dunia dan apapun yang ada
padanya tidak pernah membuatnya marah. Tetapi, jika hak
seseorang dirampas, ia akan sangat murka sehingga tidak seorang pun
mengenalnya lagi dan tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya sampai ia
mengembalikan hak itu kepada yang punya. Ketika menunjuk sesuatu, ia menunjuk
dengan seluruh tangannya. Ketika terpesona, ia membalikkan tangannya ke
bawah. Ketika berbicara,terkadang ia bersedekap atau merapatkan telapak tangan
kanannya pada punggung ibu jari kirinya. Ketika marah, ia palingkan wajahnya.
Ketika tersinggung, ia merunduk. Ketika ia tertawa, gigi-giginya tampak seperti
untaian butir-butir hujan es.
Imam Hasan berkata, “Saya menyembunyikan
berita ini dari Imam Husain sampai suatu saat saya menceritakan kepadanya.
Ternyata ia sudah tahu sebelumnya. Kemudian saya bertanya kepadanya tentang
berita ini. Ternyata ia telah bertanya kepada ayahnya (Imam Ali) tentang
Nabi, di dalam dan di luar rumah, cara duduknya dan penampilannya, dan ia
menceritakan semuanya.”[32]
Kutipan diatas tentang akhlak nabi Muhammad
SAW, bahwasanya selama hidup beliau menunjukkan akhlak-akhlak yang sangat
mulia. Beliau sangat tawaddu serta
rendah hati. Beliau bersikap sebagaimana kandungan Al-quran yang beliau
implementasikan pada kehidupan beliau.
Jadi akhlak maupun karakter yang kita
contohi, bukan kita hanya dipelajari, atau hanya sebagai sebutan atau sebagai
semboyan saja, lebih penting dari itu ialah mengaplikasikan ke dalam kehidupan
kita sehari-hari.
Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Anas RA, juga
berkata:
"Selama
sepuluh tahun aku berkhidmat kepada beliau (Rasulullah), aku tidak pernah
mendengar beliau mengucapkan kata "Ah", sebagaimana beliau tidak
pernah mempertanyakan apa yang kau kerjakan, 'Kenapa kamu mengerjakan ini? atau
'Bukankah seharusnya kamu mengerjakan seperti ini?" (HR Bukhari-Muslim)[33].
Demikian akhlak nabi muhammad yang penulis
tulis dalam karya ilmiah ini, dan masih banyak lagi akhlak beliau yang mungkin
tidak saya tuliskan dalam makalah ini, namun yang paling penting ialah kita
berakhlak mulia itu merupakan ajaran islam yang tinggi.
1. Kehidupan nabi Muhammad SAW dalam
keadaan yatim piatu dan miskin, beliau juga bekerja seperti mengembala kambing,
berdagang dsbgnya, juga sebelum menerima wahyu adalah dalam keadaan Ummi,
artinya Nabi yang dijadikan teladan bagi umatnya itu benar-benar menyampaikan
agama yang datang dari Allah swt. Bukan dibuat dan dikarang oleh nabi sendiri.
Beliau dilahirkan pada tanggal, 12 Rabiul Awal atau 22 April 571 M di
kota Mekkah pada tahun Al-Fiil (gajah) dan wafat pada
tanggal 8 Juni 632 M di Madinah dalam usia 63 tahun.
2. Sifat nabi yang
wajib itu sebagaimana yang kita ketahui yakni, Sidiq, Amanah, Tablig,
Fathonah. Yang sangat perlu kita teladani, bahwa akhlak serta sifat beliau
merupakan esensi islam yang seseungguhnya.
Serta kepribadian
beliau yang lembut dan bersahaja, seperti bagaimana belliau sebagai muslim,
sebagai pemimpin, sebagai suami, sebagai ayah dari anaknya, sebagai anak,
sebagai cucu, dst, sebagai juru dakwah, sebagai panglima perang, serta sebagai
pemersatu ummat yang berbeda-beda suku bangsa, ras, serta agama.
3. Pada hakikatnya
akhlak nabi ialah apa yang terkandung didalam Alqur’an sebagaimana yang
diberitakan istri beliau Aisyah ra, akhlak beliau dibimbing Allah swt, beliau
lembut, santun, serta berbudi pekerti luhur yang berasaskan iman, islam dan
ihsan.
Sebagai penulis kiranya saya
merasa terdapat banyak kekurangan serta kedangkalan dalam pembahasan dalam
makalah ini tentang risalah nabi muhammad SAW, disebabkan terbatasnya ilmu yang
saya miliki, serta sumber juga tidak begitu banyak yang saya dapatkan. Dan
pembahasan tentang risalah, sifat, akhlak serta kepribadian nabi merupakan
pembahasan yang cukup luas dan banyak sekalai, yang tentunya sangat terbatas
untuk di kemukakan dalam karya ilmiah saya yang sederhana ini.
Untuk itu saya mengharapkan
kritikan serta saran yang lebih membangun serta menambah ilmu bagi kita semua
dalam pembhasan ini. Dan tentunya dalam penambahan bahan diskusi kita pada
perkuliahan nanti mudaha-mudahan menjadi ilmu yang tertanam selama kehidupan
kita.
Al-Qur’anul Kariim.
Al-Buthy, Ramadhan, Said, Muhamammad, Sirah Nabawiyyah Jilid I, Jakarta,
Rabbani Press.
Al-Mubarakfuri, Syafiyurrahman, 2014, Ar-Rahiq Al-Maktum: Sirah
Nabawiyyah: Biografi Rasulullah S.A.W, Terlengkap dan Terautentik, Penerjemah,
Faris Khairul Anam, Jakarta:,Qisthi Press.
Baqi, Abdul, Fuad, Muhammad, 1995, Kumpulan Sahih Bukhari Muslim, Jakarta, Insan Kamil.
Depag RI, 2007, Alqur’an dan Terjemahnya, Bandung, Toha
Putra.
Hamid, Hamdani, 2013, Pendidikan Karakter Perspektif Islam,
Bandung, CV. Pustaka Setia.
Hidayat, Dani, 2016, Terjemah,
Tafsir Jalalain, Tasik Malaya, myface-online.blogspot.com.
Huda, Husnul, Sifat-sifat
Rasul Allah, http://husnulhuda.weebly.com/sifat-sifat-rasul-allah.html Diakses Tanggal, 25 Mei 2017
Kamus Almunawwir, Aplikasi Kamus PC, di ambil tanggal 25 Mei
2107.
Ridho, Rasjid, Muhammad, 1983, Wahyu Illahi kepada Nabi Muhammad,
Bandung: Pustaka Jaya.
Rofarif, Juman, 2015, Al-hikam Ali bin Abi Thalib: Butir-butir
Hikmah Terpilih Sang Khalifah Tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Kehidupan, akarta:
PT. Serambi Ilmu Semesta.
Supriyadi, Dedi, 2008, Sejarah Peradaban Islam, Bandung, Pustaka
Setia.
Setiawan, Ebta, 2017, Kamus Besar Bahasa Indonesia On Line, http://
kbbi. web. id/ sifat, Data Base:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud
RI.
Sinn, Abu, Ibrahim, Ahmad, 2016, Manajemen Syariah; Sebuah
Kajian Historis dan Kontemporer, Jakarta: PT Raja Grafido Persada.
Umar, Muhammad, Mu’in, Abdul,
2008, Khadidjah, The True Love Story of Muhammad SAW, Jakarta: Pena
Pundi Aksara.
[1] Depag RI, Alqur’an
dan Terjemahnya, (Bandung: Toha Putra, 2007), h. 420
[2] Dani Hidayat, Terjemah
Tafsir Jalalain, (Tasik Malaya: myface-online.blogspot.com), h. 122
[5] Kamus Almunawwir, Aplikasi Kamus PC, di ambil tanggal 25 Mei
2107.
[6] Depag RI, Op., Cit., h.
[7] Dedi Supriadi,Op.,
Cit., h. 06
[8]
Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq
Al-Maktum: Sirah Nabawiyyah: Biografi Rasulullah S.A.W, Terlengkap dan
Terautentik, Penerjemah, Faris Khairul Anam, (Jakarta: Qisthi Press, 2014),
h. 56.
[9] Ibid.
[10] Dedi
Supriyadi, Op., Cit., h. 34
[11] Depag RI, Op.,
Cit., h. 267
[13] Ebta Setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia On Line, http:// kbbi.
web. id/ sifat, (Data Base:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud RI), Diakases tanggal 11
maret 2017.
[14] Ibid.
[17] Juman Rofarif, Al-hikam Ali bin Abi Thalib: Butir-butir Hikmah
Terpilih Sang Khalifah Tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Kehidupan, (Jakarta:
PT. Serambi Ilmu Semesta, 2015), h. 24
[18] Ibid., h. 159
[19] Ahmad Ibrahim Abu Sinn, Manajemen Syariah; Sebuah Kajian
Historis dan Kontemporer, (Jakarta: PT Raja Grafido Persada, 2006), h. 77
[20] Ibid., h. 573
[21] Ibid., h. 585
[22] Muhammad Rasjid Ridho, Wahyu Illahi kepada Nabi Muhammad, (Bandung:
Pustaka Jaya, 1983), h. 337
[23] Depag RI, Op., Cit., h.
[24] Husnul Huda, Sifat-sifat Rasul Allah, http://husnulhuda.weebly.com/sifat-sifat-rasul-allah.html Diakses
Tanggal, 25 Mei 2017
[25] MuhammadSa’id Ramadhan Al- Buthy, Sirah
Nabawiyyah Jilid I, (Jakarta: Rabbani Press, t.th), h. 21.
[26] Abdul Mu’in Muhammad Umar, Khadidjah, The True Love Story of
Muhammad SAW, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2008), h. 91
[27] Depag RI, Op.,
Cit., h. 36.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar